FROM HERO TO ZERO
Anak itu
melayang di udara dengan tongkat ajaibnya yang bisa membawa terbang di angkasa
layaknya seekor burung. Rambutnya tidak lagi gundul tapi gambar anak panah
masih terlihat didahinya. Dialah Aank, pengendali udara, Sang Avatar. Ceritanya
dapat kita saksikan dalam film kartun Avatar, The Legend Of Aank.
Ada yang menarik
dari cerita kartun tersebut diatas. Aank adalah seorang anak lelaki walaupun
dia sudah hidup lebih dari 100 tahun berusaha untuk mengalahkan Raja Api yang
berniat menguasi dunia. Tapi ada dinyana, Aank tidak dapat menjadi avatar yang
sejati karena satu hal, dia tidak dapat melepaskan dirinya dari jeratan
cintannya terhadap seorang gadis yang selalu mendampinginya. Dialah Katara, si
pengendali air yang juga merupakan guru bagi Aank. Alhasil, Aank pun tidak bisa
menjadi avatar.
Putus asakah
Aank? Dalam satu episode diceritakan, Aank merasa tidak dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik. Dia menjadi apatis terhadap misi yang diembannya.
Semuanya terlihat akan hancur dan dia akan menyerah kalah pada Raja Api. Tapi,
orang-orang disekelilingnya memberikan satu harapan kepadanya, Bahwa perjuangan
untuk meraih sesuatu tidak selalu bisa hanya dengan mengandalkan diri sendiri.
Aank butuh orang lain,
Itulah Aank,
yang awalnya merupakan Hero, Sang Penyelamat Dunia tetapi pada akhirnya harus
jatuh menjadi zero karena cinta.
Disini kita
tidak bicara tentang cinta, kita bicara tentang ekspektasi yang berlebihan
terhadap satu orang yang belum tentu orang tersebut mampu memenuhi ekspektasi
atau harapan kita.
Manusia adalah
mahluk Tuhan yang serba terbatas dan selalu diliputi kesalahan. Harapan yang
berlebihan kita terhadap sesuatu akan
membawa kita kepada kepahitan yang teramat dalam.
Kita lihat
dinamika hukum saat ini, kita mempunyai harapan besar terhadap hamba-hamba
penegak hukum di Indonesia tetapi apa yang kita dapatkan? Kita telah tertipu
oleh mereka. Meraka bukan hanya menegakkan hukum di negara ini tetapi mereka
juga yang merekayasa penegakan hukum di negeri ini. Kita patut menyesali ini
terjadi. Disaat kita sedang berharap kepada Institusi Kejaksaan untuk dapat
menegakkan keadilan dengan menyeret para bajingan kelas kakap, tikus-tikus
gemuk pegemplang dana BLBI ke dalam terali besi, ehhh mereka malah asik-asiknya
bercumbu rayu para bajingan dan
tikus-tikus.
Menagiskah kita?
Putus asakah
kita ?
Jawabnya,
“Tidak”.
Kita hanya
kecewa dan menyesal.
Kecewa karena
mereka adalah harapan kita akan tegaknya hukum dan keadilan di negara ini dan
kita juga menyesal karena aparatur penagak hukum kita mampu di pecundangi oleh
pengusaha-pengusaha bobrok. Trilyunan hanya dibalas dengan beberapa milyar
itupun setelah mengemis.
Tapi ini bukan
akhir segalanya. Seekor keledai saja tidak akan jatuh dilubang yang sama
apalagi kita sebagai manusia. Dan lagi-lagi kita berharap (walau sekarang
kadarnya sudah berkurang) Penegakan hukum di Negara ini akan menjadi senjata
untuk menegakkan keadilan dan pada akhirnya keadilan akan membawa kemakmuran
dan kesejahteraan bagi bangsa ini. Yang mereka butuhkan sekarang ini adalah
dukungan dan kepercayaan dari kita, sang rakyat. So, Give it to them. Than you
will find a New Hero.
From Hero to
Zero Than Be Hero Again.