NASIONALISME, PATRIOTISME dan KORUPSISME
Mulyana, bebas.
Masih ingat Mulyana W.Kusuma?
Anggota KPU yang tertangkap basah sedang mencoba menyogok anggota KPK. Tentu, donk. Beliaukan figur bangsa ini.
Sesosok manusia Indonesia yang memiliki semangat Nasionalisme, Patriotisme dan
tak lupa Korupsisme.
Walah, iki kok
nyeleneh. Piye toh sampean.
That’s right, my
mbok.
Indonesia
saat ini terdiri dari orang-orang yang memiliki semangat patria yang tinggi,
semangat nasionalisme yang menggebu-gebu dan tak ketinggalan semangat korup
yang tak kalah tingginya. Kalau dipikir-pikir (pstttt, ini untuk orang yang mau
berpikir,ONLY), apa yang salah di bangsa ini? Pendidikannya kah, pergaulan
sosialnya, atau ini merupakan penyakit genetika yang di wariskan para nenek
moyang bangsa ini? Nggak mungkin donk, wong nenek moyang kita cuma seorang
pelaut kok. Apa yang mau di korupsi.
Btw (omong-omong
kosong), Pak Probo dan Pak Puteh juga bebas, enak benar mereka. Makan nangka
sampe kenyang tapi ketiban getahnya sedikit aja. Benar kata mami saya, kalo mau
makan nangka jangan lupa pisaunya di lumuri minyak makan makan dahulu supaya
getahnya nggak lengket semua. Ilmu ini benar-benar diamalkan banyak Patriot
bangsa ini. Melumuri diri dengan minyak
Partai Politik, orang berkuasa dan mantan orang berkuasa agar mendapat kelonggaran
di mata hukum. Biarlah badan di terali besi, asal gaji tetap jalan, asal tidak
semua harta dirampas negara dan satu
yang pasti tiap tahun akan dapat remisi dari Pak Pres. Everything’s Under
Control my brother.
Kenapa ini semua terjadi? Kalau
dipikir-pikir, apa yang dilakukan Pak Mul, Pak Probo dan Pak Puteh adalah efek
klimaks dari lebih. Sesuatu yang berlebihan pasti menimbulkan efek negatif.
Nasionalisme yang berlebihan, patriotisme yang berlebihan dan korupsi yang
berlebihan akan membawa manusia menjadi serakah. Bermula atas nama keluarga berkembang menjadi kepentingan
nasional, berawal dari kasur rumah berkembang menjadi patria (tanah air),
berawal dari sejengkal menjadi kemewahan yang unlimited.
Akhirnya.
Disinilah aku hidup, ditanah yang
mulia dan suci, tanah tumpahnya darah-darah pahlawanku dan di tanah ini jasadku akan terbaring nantinya. Maafkan aku
Pahlawanku yang tidak mampu mewujudkan cita-cita luhurmu. Nusantara yang
berkeadilan sosial.