Wellcome To The New World

You want to know me? FInd out at my blog…..trust me you will find nothings. Hheheheheh

Archive for January, 2008


NASIONALISME, PATRIOTISME dan KORUPSISME

Mulyana, bebas.

Masih ingat Mulyana W.Kusuma?
Anggota KPU yang tertangkap basah sedang mencoba menyogok anggota KPK. Tentu, donk. Beliaukan figur bangsa ini.
Sesosok manusia Indonesia yang memiliki semangat Nasionalisme, Patriotisme dan
tak lupa Korupsisme.

 

Walah, iki kok
nyeleneh. Piye toh sampean.

 

That’s right, my
mbok.

Indonesia

saat ini terdiri dari orang-orang yang memiliki semangat patria yang tinggi,
semangat nasionalisme yang menggebu-gebu dan tak ketinggalan semangat korup
yang tak kalah tingginya. Kalau dipikir-pikir (pstttt, ini untuk orang yang mau
berpikir,ONLY), apa yang salah di bangsa ini? Pendidikannya kah, pergaulan
sosialnya, atau ini merupakan penyakit genetika yang di wariskan para nenek
moyang bangsa ini? Nggak mungkin donk, wong nenek moyang kita cuma seorang
pelaut kok. Apa yang mau di korupsi.

 

Btw (omong-omong
kosong), Pak Probo dan Pak Puteh juga bebas, enak benar mereka. Makan nangka
sampe kenyang tapi ketiban getahnya sedikit aja. Benar kata mami saya, kalo mau
makan nangka jangan lupa pisaunya di lumuri minyak makan makan dahulu supaya
getahnya nggak lengket semua. Ilmu ini benar-benar diamalkan banyak Patriot
bangsa ini. Melumuri diri dengan minyak
Partai Politik, orang berkuasa dan mantan orang berkuasa agar mendapat kelonggaran
di mata hukum. Biarlah badan di terali besi, asal gaji tetap jalan, asal tidak
semua harta dirampas negara dan satu
yang pasti tiap tahun akan dapat remisi dari Pak Pres. Everything’s Under
Control my brother.

 

Kenapa ini semua terjadi? Kalau
dipikir-pikir, apa yang dilakukan Pak Mul, Pak Probo dan Pak Puteh adalah efek
klimaks dari lebih. Sesuatu yang berlebihan pasti menimbulkan efek negatif.
Nasionalisme yang berlebihan, patriotisme yang berlebihan dan korupsi yang
berlebihan akan membawa manusia menjadi serakah. Bermula atas nama keluarga berkembang menjadi kepentingan
nasional, berawal dari kasur rumah berkembang menjadi patria (tanah air),
berawal dari sejengkal menjadi kemewahan yang unlimited.

Akhirnya.

Disinilah aku hidup, ditanah yang
mulia dan suci, tanah tumpahnya darah-darah pahlawanku dan di tanah ini jasadku akan terbaring nantinya. Maafkan aku
Pahlawanku yang tidak mampu mewujudkan cita-cita luhurmu. Nusantara yang
berkeadilan sosial.

Elvis dan NKRI

Ada sebuah korelasi yang terjalin antara Elvis
Presly, The King of Rock n Roll dan NKRI, sebuah Negara besar yang sedang
belajar tentang demokrasi.
Di berbagai media massa di pertengahan Bulan Agustus
beramai - ramai memuat berita tentang mereka.
Yang satu merayakan 30 tahun sudah kematian dan yang satunya lagi merayakan
62 tahun kemerdekaannya.

Para

penggemar, pengagum atau bisa kita sebuat mereka
Elvislista berduyun-duyun berdatangan dari seluruh penjuru dunia hanya untuk
melontarkan bunga di makam sang maestro.
Perlombaan-perlombaan yang
meriah pun di gelar di seantero dunia, guna mengenang sang maestro. Wow,
perayaan yang begitu megahnya. Elvis akan selalu ada dan mendiami hati setiap
pengagum setianya. Yakinlah, penggagum baru akan selalu bertambah dari tahun ke
tahun. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.

 

Bagaimana dengan
perayaan NKRI?

 

Tentu saja
perayaannya meriah. Begitulah yang kita lihat. Tapi ada satu yang hilang
disela-sela perayaan kali ini. Semangat.
Enam puluh dua tahun sudah NKRI berdiri kokoh.
Makin tua NKRI, makin pudar pula
semangat rakyat ini merayakannya.

Ada

apa
gerangan wahai rakyat

Indonesia

?
Kami jenuh, bang. Jenuh akan getirnya kehidupan ini. Jenuh menunggu akan datangnya
perubahan yang dijanjikan pemimpin-pemimpin negeri ini. Seperti jenuhnya kami
menunggu Satria Piningit dari tanah jawa yang akan datang dan menyelamatkan
nusantara dari kehancuran.

Perayaan HUT NKRI kali in terasa hambar, seperti
sayur bayam tanpa garam, seperti orang gila yang raganya ada tetapi jiwa nya
telah hilang. Jadi jangan Tanya kenapa!!!!!

TETRALOGI LASKAR PELANGI

BOOK ONE. LASKAR PELANGI

 

Andrea Hirata adalah seorang penulis baru yang
langsung melejit dengan empat buku sekaligus. Keempatnya merupakan buku best
seller
di Indonesia. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Endensor dan Maryamah
Karpov. Membaca bukunya mengingatkan kita akan bukunya Dee ”Supernova”. Yap,
buku-buku yang mengandung kata-kata ilmiah yang menjlimet tapi memberikan kita
suatu inspirasi tentang ilmu pengetahuan yang begitu luasnya.

 

Buku pertama Laskar Pelangi
menceritakan tentang 9 anak suku melayu belitong yang sangat ingin bersekolah
dan 1 orang anak turunan tionghoa yang mungkin karena garis ekonomi harus ikut bersekolah
di sekolah reot SD Muhammadiyah. Mereka adalah Ikal, Kucai, Lintang, Samson,
Trapani, Akiong, Borek, Mahar, Harun dan seorang cewek, Sahara.  Ikal merupakan pemeran utama dalam tetralogi
ini, seorang anak yang pintar tetapi tidak pernah menjadi juara 1. Kucai adalah
sesosok mahluk bermata juling akibat kekurangan gizi waktu kecil tetapi selalu
dipercaya mejadi ketua kelas karena gaya diplomasi, bodoh tapi merasa pintar.
Lintang, anak persisir yang harus bersepeda sejauh 40 km untuk bersekolah, anak
seorang nelayan tetapi merupakan anak yang terpintar diantara laskar pelangi,
yang pada akhirnya terputus sekolahnya akibat faktor ekonomi keluarga. Samson,
adalah seorang anak yang paling kuat diantara mereka, sangat mendambakan
tubuhnya menjadi sekuat hercules. Trapani, anak lelaki yang paling tampan,
kulitnya putih, bajunya selalu rapi jali
tetapi punya masalah dengan sindrom selalu bergantung dengan ibunya. Akiong,
anak turunan tionghoa, yang menduduki starta ekonomi paling bawah dalam
komunitas tionghoa. Borek, seorang anak yang susah diatur. Mahar, seorang anak
yang eksentrik yang jenius dalam hal seni dan berwajah tampan. Harun, seorang
murid yang mentalnya terbelakang, tetapi dialah penyelamat ketika SD
Muhammadiyah akan ditutup. Terakhir ada Sahara, cewek satu-satunya di ruang
kelas, si keras kepala dan terus menjadi musuh besar Akiong

 

Buku ini juga menceritakan
tentang pilunya kehidupan suku melayu belitong, suku asli yang tidak pernah
merasakan hasil kayanya tanah mereka, suku yang harus terasing ditanahnya
sendiri. Yap, mereka adalah kaum yang termarginalkan oleh peradaban Indonesia.
Suku melayu belitong merupakan satu dari sekian banyak kasus kaum marginal di
Indonesia yang harus menelan pahit pil kemiskinan ditanahnya yang kaya raya.
Sebut saja Aceh, sebuah propinsi yang kaya akan minyak bumi tetapi lebih dari ¾
penduduknya adalah rakyat miskin. Irian jaya sebuah propinsi yang memiliki
hasil tambang yang melimpah ruah tetapi ¾ penduduknya adalah rakyat miskin yang masih berbusana seadanya. Banyak
lagi daerah-daerah lain yang bernasib sama dengan mereka, suku melayu di Medan,
yang harus menyingkir ke daerah pinggiran karena tidak sanggup bersaing dengan
pendatang, suku betawi juga harus mengalami nasib yang sama dengan orang melayu
medan. Tikus-tikus yang kelaparan di lumbung padi.

 

Buku setebal 534 halaman ini dan
berharga Rp.60.000, akan mengundang ketakjuban kita akan sebuah semangat untuk
sebuah perubahan yang fundamental bagi masyarakat Melayu belitong. Berpendidikan.
Walaupun anak-anak belitong hidup serba
kekurangan untuk bersekolah tetapi tidak mengurangi semangat mereka untuk
bersekolah. Sekolah adalah jembatan menuju perubahan bagi mereka. Siapa saja
yang membaca buku ini akan terinspirasi karena buku ini. Lihat saja pernyataan Arwin
Rasyid
seorang Dirut Telkom dan dosen FE UI ”Cerita Laskar Pelangi sangat
inspiratif. Sebuah Novel yang akan mengobarkan semangat mereka yang selalu
dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan”

 

Membaca Pelangi ibarat kembali
kemasa waktu kita bersekolah di SD dan SMP. Persahabatan, kegaduhan di ruang
kelas, indahnya masa kecil dan tentang cinta. Semua diracik sangat apik oleh Andrea.

 

SEBUAH CERITA YANG
SANGAT SAYANG JIKA DILEWATKAN