Wellcome To The New World

You want to know me? FInd out at my blog…..trust me you will find nothings. Hheheheheh

Archive for August, 2008


FROM HERO TO ZERO

Anak itu
melayang di udara dengan tongkat ajaibnya yang bisa membawa terbang di angkasa
layaknya seekor burung. Rambutnya tidak lagi gundul tapi gambar anak panah
masih terlihat didahinya. Dialah Aank, pengendali udara, Sang Avatar. Ceritanya
dapat kita saksikan dalam film kartun Avatar, The Legend Of Aank.

Ada yang menarik
dari cerita kartun tersebut diatas. Aank adalah seorang anak lelaki walaupun
dia sudah hidup lebih dari 100 tahun berusaha untuk mengalahkan Raja Api yang
berniat menguasi dunia. Tapi ada dinyana, Aank tidak dapat menjadi avatar yang
sejati karena satu hal, dia tidak dapat melepaskan dirinya dari jeratan
cintannya terhadap seorang gadis yang selalu mendampinginya. Dialah Katara, si
pengendali air yang juga merupakan guru bagi Aank. Alhasil, Aank pun tidak bisa
menjadi avatar.

Putus asakah
Aank? Dalam satu episode diceritakan, Aank merasa tidak dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik. Dia menjadi apatis terhadap misi yang diembannya.
Semuanya terlihat akan hancur dan dia akan menyerah kalah pada Raja Api. Tapi,
orang-orang disekelilingnya memberikan satu harapan kepadanya, Bahwa perjuangan
untuk meraih sesuatu tidak selalu bisa hanya dengan mengandalkan diri sendiri.
Aank butuh orang lain,

Itulah Aank,
yang awalnya merupakan Hero, Sang Penyelamat Dunia tetapi pada akhirnya harus
jatuh menjadi zero karena cinta.

Disini kita
tidak bicara tentang cinta, kita bicara tentang ekspektasi yang berlebihan
terhadap satu orang yang belum tentu orang tersebut mampu memenuhi ekspektasi
atau harapan kita.

Manusia adalah
mahluk Tuhan yang serba terbatas dan selalu diliputi kesalahan. Harapan yang
berlebihan kita terhadap sesuatu akan
membawa kita kepada kepahitan yang teramat dalam.

Kita lihat
dinamika hukum saat ini, kita mempunyai harapan besar terhadap hamba-hamba
penegak hukum di Indonesia tetapi apa yang kita dapatkan? Kita telah tertipu
oleh mereka. Meraka bukan hanya menegakkan hukum di negara ini tetapi mereka
juga yang merekayasa penegakan hukum di negeri ini. Kita patut menyesali ini
terjadi. Disaat kita sedang berharap kepada Institusi Kejaksaan untuk dapat
menegakkan keadilan dengan menyeret para bajingan kelas kakap, tikus-tikus
gemuk pegemplang dana BLBI ke dalam terali besi, ehhh mereka malah asik-asiknya
bercumbu rayu para bajingan dan
tikus-tikus.

Menagiskah kita?

Putus asakah
kita ?

Jawabnya,
“Tidak”.

Kita hanya
kecewa dan menyesal.

Kecewa karena
mereka adalah harapan kita akan tegaknya hukum dan keadilan di negara ini dan
kita juga menyesal karena aparatur penagak hukum kita mampu di pecundangi oleh
pengusaha-pengusaha bobrok. Trilyunan hanya dibalas dengan beberapa milyar
itupun setelah mengemis.

Tapi ini bukan
akhir segalanya. Seekor keledai saja tidak akan jatuh dilubang yang sama
apalagi kita sebagai manusia. Dan lagi-lagi kita berharap (walau sekarang
kadarnya sudah berkurang) Penegakan hukum di Negara ini akan menjadi senjata
untuk menegakkan keadilan dan pada akhirnya keadilan akan membawa kemakmuran
dan kesejahteraan bagi bangsa ini. Yang mereka butuhkan sekarang ini adalah
dukungan dan kepercayaan dari kita, sang rakyat. So, Give it to them. Than you
will find a New Hero.

From Hero to
Zero Than Be Hero Again.

TAN MALAKA (HADIAH DAN REFLEKSI KEMERDEKAAN)

Membaca nama
tersebut diatas, pikiran saya langsung menuju kepada sebuah partai dan ideologi
yang saat ini diharamkan untuk hidup di bangsa ini. Yap, Partai Komunis
Indonesia atau ideologi sosialis komunis (Marxisme dan Leninisme). Partai dan
ideologi yang menjadi musuh bangsa ini dan dikubur keberadaannya pada waktu
pemerintahan orde baru. Ada banyak cerita kelam didalamnya, karena itu sampai
saat ini pun kita masih dijejali anggapan Komunis itu Haram dan harus dibumi
hanguskan dari tanah ini.

Sekarang disaat
bangsa ini akan merayakan kelahirannya untuk yang ke 63, saya berkesempatan
membaca majalah Tempo yang membahas sepak terjang Tan Malaka di Indonesia. Ada hal-hal
yang menarik dalam artikel-artikel tersebut. Salah satu yang mengagetkan saya
adalah ternyata seorang Tan Malaka telah melakukan perjalanan sejauh 890 ribu
kilometer. Dua kali lebih jarak yang pernah di tempuh oleh Ernesto Che Guevara,
salah satu tokoh yang saya kagumi. Saya, malu ketika saya lebih dahulu membaca
riwayat El Che daripada riwayat Tan Malaka. Inilah bangsa ini, ada begitu
banyak sejarah yang telah diputar balikkan faktanya dan ditutup-tutupi. Dan
akibatnya, anak-anak bangsa yang lahir setelah jaman kemerdekaan melek akan
tokoh-tokoh perjuangan yang dahulu berjasa mendirikan bangsa ini.

Tan Malaka, atau
Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Sumatera Barat. Propinsi yang melahirkan
banyak tokoh-tokoh kemerdekaan yang salah satunya Natsir. Yang riwayat dirinya
juga saya baca di Majalah Tempo. Tan Malaka adalah tokoh yang terbuang dan
selalu dikelilingi oleh kesepian. Tetapi dari sinilah dia belajar, belajar
untuk memerdekaan bangsa ini. Dia jugalah yang pertama kali menggagas tentang
keberadaan Indonesia melalui bukunya Menuju Republik Indonesia tahun
1925. Pengembaraannya di 2 benua menjadikan Tan Malaka orang yang memiliki
pengetahuan yang luas tentang Strategi Politik, Perlawanan dan Strategi
Militer. Yang beliau inginkan cuma satu, kemerdekaan Indonesia yang 100%, tanpa
bantuan asing apalagi merupakan hadiah dari sepupu tertua kita (Jepang).

Membaca riwayat
Tan Malaka, saya seperti kembali ke jaman pra kemerdekaan dan tahun-tahun
pertama pasca kemerdekaan. Dimana tokoh-tokoh politik, pemimpin dan negarawan
republik ini hanya berfikir, bertindak untuk kepentingan bangsa dan negara
daripada kepentingan daerah, partai apalagi keluarga. Tidak seperti setelah 63
tahun bangsa ini merdeka, para politikus, pemimpin maupun negarawan lebih
mementingkan partai dan keluarga. Banyaknya kasus korupsi saat ini merupakan
barometer kepada kita bahwa telah luntur didalam diri kita, para politikus kita,
para pemimpin kita dan negarawan kita hakekat atas asas untuk memiliki republik
ini.

Tan Malaka
adalah seorang sosialis komunis, kita tidak dapat menafikkan hal ini. Tetapi yang
perlu diingat pada saat itu, komunisme bisa dijadikan salah satu alat untuk
meraih kemerdekaan. Ya, pada saat ini komunisme adalah satu-satunya tembok
untuk menghalau laju imprealisme dan kapitalisme. Tan Malaka sedari dulu sudah
sadar akan bahaya kapitalisme. Kapitalisme lambat laun akan menjelma menjadi
imprealisme. Toh, didalam buku-buku ekonomi kita sudah membaca, pada saat satu
pasar sudah penuh sesak akan supply, maka otomatis mereka akan mencari
demand-demand baru. Lihat saja apa yang disampaikan Tan Malaka pada saat di
Yogyakarta, 7 November 1948, “ Negara yang hidup meminjam pasti menjadi
hamba peminjam”.
Jika kita kembalikan hal ini di jaman sekarang ini,
pemikiran Tan Malaka sangatlah benar. Ketika krisis moneter melanda Indonesia
pada tahun 1997, seketika itu pula International Monetery Fund (IMF)
menjulurkan pinjamanan kepada Indonesia untuk memperbaiki Moneter Indonesia
yang kolaps. Setelah itu, bisa kita saksikan bangsa ini menjadi hamba IMF
(kapitalisme). Tidak bisa kita pungkiri kejadian penangkapan-penangkapan
pemimpin gerakan radikal Islam, penghapusan segala macam bentuk subsidi untuk
rakyat adalah buah intervensi IMF (kapitalisme). “Menuju pasar liberal,”
katanya.

Ketika
menghadap Tuhan saya seorang Muslim tapi
manakala berhadapan dengan manusia saya bukan muslim. (Kongres Komunis
Internasional ke-4, Moskow 1922)

Entah apa yang
ada dibenak Tan Malaka pada saat mengatakan hal tersebut. Tapi satu yang pasti
Tan Malaka adalah seorang Muslim dan pada waktu kecilnya rajin shalat dan hapal
Quran. Bagi saya tidak penting menanyakan setelah menganut ideologi sosialis
komunis Tan Malaka masih sering shalat atau membaca Quran atau malah
melupakannya sama sekali. Bagi saya yang penting adalah Tan Malaka tetap
mencurahkan seluruh pemikiran dan tindakannya untuk memajukan bangsa ini.
Tidakkah ini lebih berarti? Seorang komunis yang berjuang demi kemaslahatan
bangsa lebih berharga daripada seorang beragama tetapi berjuang demi kepentingan
dirinya sendiri dan menghancurkan bangsa.
Enam puluh tiga tahun bangsa ini
telah merdeka, bisa dipastikan 100% penduduknya pemeluk agama yang berbeda-beda
tetapi sejauh mana agama menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar?
Contoh kasus, semua koruptor di bangsa ini merupakan pemeluk agama, bernaung di
partai berlabel agama, beribadah tidak pernah terlewatkan, donatur pembangunan
rumah-rumah ibadah, penyantun bagi fakir miskin dan banyak hal-hal yang baik
lainnya tetapi itu semua merupakan kedok dari kerakusan.

Sayang bagi Tan
Malaka, akhirnya dia harus mati di negerinya sendiri, di eksekusi oleh
bangsanya sendiri dan dicap sebagai penghianat. Tan Malaka meninggal tanggal 21
Februari 1949 di Selopanggung.

“Ingatlah
bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”
(Dari
Penjara ke Penjara Jilid II, 1948)

Saya bukanlah
seorang komunis. Saya hanya orang yang berharap suatu saat di republik ini
tidak ada lagi anak-anak bangsa yang berlari di diperempatan jalan mengejar
receh-recehan dari pada dermawan, tidak ada lagi anak-anak bangsa yang berhenti
sekolah hanya karena ketiadaan uang, tidak adalagi ketimpangan-ketimpangan yang
telalu jauh antara yang kaya dan yang miskin, tidak ada lagi
pembodohan-pembodohan yang dilakukan kaum-kaum borjuis terhadap buruh (pekerja)
dan tidak adalagi koruptor yang tega memakan uang rakyat. Tahun 2008 ini, 100
tahun sudah Kebangkitan Nasional dan 63 tahun sudah Indonesia Merdeka,
selayaknya tahun ini akan menjadi Tahun Perubahan bagi bangsa ini. Perubahan
untuk menjadi yang lebih baik lagi, lebih baik dalam penegakan hukum, lebih
baik dalam penciptaan kondusifitas berusaha, bekerja, dan keberpihakan
pemerintah kepada masyarakat ekonomi lemah.

SELAMAT
ULANG TAHUN INDONESIAKU

OPINI VS OPINI

Membaca Majalah Tempo di halaman opini saya membaca sebuah artikel tentang KPK akan ikut serta dalam pembahasan Anggaran di DPR. Sebuah kalimat yang menurut saya miris adalah KPK tidak harus ikut serta dalam pembahsan anggaran karena dikhawatirkan akan merusak wibawa anggota2 DPR yang notabene di pilih oleh rakyat.

Aneh? Tentu. Anggota2 DPR adalah perpanjangan tangan rakyat di pemerintahan kalau boleh saya meminjam trias politika disebut juga legeslatif. Tapi apa mau dinyana, saat ini banyak kasus2 yang menimpa wakil2 kita. Mulai dari tindakan asusila sampai dengan kasus korupsi. Dimana wibawa kita sebagai rakyat jika wakil2 kita bertindak hal bodoh seperti diatas? Kenapa kita harus menjaga wibawa mereka? Apa karena mereka berbaju safari mahal, harum karena parfum mahal, bermobil mewah ketika kekantor?

Selama mereka tidak bisa menjaga kewibawaan rakyat yang telah memilih mereka, kenapa kita juga harus menjaga kewibawaan mereka?

AYO RAME2 JADI CALEG

Musim kampanye telah tiba. 2009 jadi ajang pertaruhan gengsi partai2 politik. Ada hal yang menarik di pemilu kali ini. hampir di pastikan rata-rata "Politikus2 Senior" mencalonkan anak-anak mereka. Indonesia akan kembali lagi ke orde baru. Bisa dibayangkan jikalau anak2 tersebut nantinya berkuasa dan "Politikus2 Senior" telah habis rejimnya dan kemungkinan ada awan kelabu membayangi lengsernya mereka, tentunya anak2 mereka akan menjadi juru selamat untuk mereka di hari kemudian kelak. Atau ini juga bisa merupakan suatu upaya untuk menjaga trah atau klan para politikus senior.  Atau bisa jadi  sebuah AJI MUMPUNG. Mumpung enyak atau babeh masih berkuasa atau masing punya gigi.

Lihat aja sekarang gimana Aulia Pohan berlenggang kangkung dari jeratan hukum kasus BI, mungkin karena Pak Aulia besannya RI 1 jadi aparatur hukum agak sedikit segan untuk menekan. (May be yes, May be not)

Nga ada yang betul di negara ini.

Now, artis2 juga pingin jadi penguasa. Mulai dari pesinetron sampe penyanyi dangdut. Selalu ada lelucon di negara ini. Teringat si suatu acara, seorang penyanyi dangdut yang mau jadi wakil kepala daerah ditanya tentang visi misinya. Dengan dodongnya menjawab nga nyambung. gmana mo jadi pemimpin bu? Jelaskan visi misi aja nga mampu. Ato mungkin arti visi misi juga anda ngga tau??

Sudahlah, terlalu banyak yang harus dipikirkan di negara ini.

Terdengar Alunan Lagu Iwan Fals :

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
BUKAN KUMPULAN TEMAN2 DEKAT
APALAGI SANAK FAMILI