TAN MALAKA (HADIAH DAN REFLEKSI KEMERDEKAAN)
Membaca nama
tersebut diatas, pikiran saya langsung menuju kepada sebuah partai dan ideologi
yang saat ini diharamkan untuk hidup di bangsa ini. Yap, Partai Komunis
Indonesia atau ideologi sosialis komunis (Marxisme dan Leninisme). Partai dan
ideologi yang menjadi musuh bangsa ini dan dikubur keberadaannya pada waktu
pemerintahan orde baru. Ada banyak cerita kelam didalamnya, karena itu sampai
saat ini pun kita masih dijejali anggapan Komunis itu Haram dan harus dibumi
hanguskan dari tanah ini.
Sekarang disaat
bangsa ini akan merayakan kelahirannya untuk yang ke 63, saya berkesempatan
membaca majalah Tempo yang membahas sepak terjang Tan Malaka di Indonesia. Ada hal-hal
yang menarik dalam artikel-artikel tersebut. Salah satu yang mengagetkan saya
adalah ternyata seorang Tan Malaka telah melakukan perjalanan sejauh 890 ribu
kilometer. Dua kali lebih jarak yang pernah di tempuh oleh Ernesto Che Guevara,
salah satu tokoh yang saya kagumi. Saya, malu ketika saya lebih dahulu membaca
riwayat El Che daripada riwayat Tan Malaka. Inilah bangsa ini, ada begitu
banyak sejarah yang telah diputar balikkan faktanya dan ditutup-tutupi. Dan
akibatnya, anak-anak bangsa yang lahir setelah jaman kemerdekaan melek akan
tokoh-tokoh perjuangan yang dahulu berjasa mendirikan bangsa ini.
Tan Malaka, atau
Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Sumatera Barat. Propinsi yang melahirkan
banyak tokoh-tokoh kemerdekaan yang salah satunya Natsir. Yang riwayat dirinya
juga saya baca di Majalah Tempo. Tan Malaka adalah tokoh yang terbuang dan
selalu dikelilingi oleh kesepian. Tetapi dari sinilah dia belajar, belajar
untuk memerdekaan bangsa ini. Dia jugalah yang pertama kali menggagas tentang
keberadaan Indonesia melalui bukunya Menuju Republik Indonesia tahun
1925. Pengembaraannya di 2 benua menjadikan Tan Malaka orang yang memiliki
pengetahuan yang luas tentang Strategi Politik, Perlawanan dan Strategi
Militer. Yang beliau inginkan cuma satu, kemerdekaan Indonesia yang 100%, tanpa
bantuan asing apalagi merupakan hadiah dari sepupu tertua kita (Jepang).
Membaca riwayat
Tan Malaka, saya seperti kembali ke jaman pra kemerdekaan dan tahun-tahun
pertama pasca kemerdekaan. Dimana tokoh-tokoh politik, pemimpin dan negarawan
republik ini hanya berfikir, bertindak untuk kepentingan bangsa dan negara
daripada kepentingan daerah, partai apalagi keluarga. Tidak seperti setelah 63
tahun bangsa ini merdeka, para politikus, pemimpin maupun negarawan lebih
mementingkan partai dan keluarga. Banyaknya kasus korupsi saat ini merupakan
barometer kepada kita bahwa telah luntur didalam diri kita, para politikus kita,
para pemimpin kita dan negarawan kita hakekat atas asas untuk memiliki republik
ini.
Tan Malaka
adalah seorang sosialis komunis, kita tidak dapat menafikkan hal ini. Tetapi yang
perlu diingat pada saat itu, komunisme bisa dijadikan salah satu alat untuk
meraih kemerdekaan. Ya, pada saat ini komunisme adalah satu-satunya tembok
untuk menghalau laju imprealisme dan kapitalisme. Tan Malaka sedari dulu sudah
sadar akan bahaya kapitalisme. Kapitalisme lambat laun akan menjelma menjadi
imprealisme. Toh, didalam buku-buku ekonomi kita sudah membaca, pada saat satu
pasar sudah penuh sesak akan supply, maka otomatis mereka akan mencari
demand-demand baru. Lihat saja apa yang disampaikan Tan Malaka pada saat di
Yogyakarta, 7 November 1948, “ Negara yang hidup meminjam pasti menjadi
hamba peminjam”. Jika kita kembalikan hal ini di jaman sekarang ini,
pemikiran Tan Malaka sangatlah benar. Ketika krisis moneter melanda Indonesia
pada tahun 1997, seketika itu pula International Monetery Fund (IMF)
menjulurkan pinjamanan kepada Indonesia untuk memperbaiki Moneter Indonesia
yang kolaps. Setelah itu, bisa kita saksikan bangsa ini menjadi hamba IMF
(kapitalisme). Tidak bisa kita pungkiri kejadian penangkapan-penangkapan
pemimpin gerakan radikal Islam, penghapusan segala macam bentuk subsidi untuk
rakyat adalah buah intervensi IMF (kapitalisme). “Menuju pasar liberal,”
katanya.
Ketika
menghadap Tuhan saya seorang Muslim tapi
manakala berhadapan dengan manusia saya bukan muslim. (Kongres Komunis
Internasional ke-4, Moskow 1922)
Entah apa yang
ada dibenak Tan Malaka pada saat mengatakan hal tersebut. Tapi satu yang pasti
Tan Malaka adalah seorang Muslim dan pada waktu kecilnya rajin shalat dan hapal
Quran. Bagi saya tidak penting menanyakan setelah menganut ideologi sosialis
komunis Tan Malaka masih sering shalat atau membaca Quran atau malah
melupakannya sama sekali. Bagi saya yang penting adalah Tan Malaka tetap
mencurahkan seluruh pemikiran dan tindakannya untuk memajukan bangsa ini.
Tidakkah ini lebih berarti? Seorang komunis yang berjuang demi kemaslahatan
bangsa lebih berharga daripada seorang beragama tetapi berjuang demi kepentingan
dirinya sendiri dan menghancurkan bangsa. Enam puluh tiga tahun bangsa ini
telah merdeka, bisa dipastikan 100% penduduknya pemeluk agama yang berbeda-beda
tetapi sejauh mana agama menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar?
Contoh kasus, semua koruptor di bangsa ini merupakan pemeluk agama, bernaung di
partai berlabel agama, beribadah tidak pernah terlewatkan, donatur pembangunan
rumah-rumah ibadah, penyantun bagi fakir miskin dan banyak hal-hal yang baik
lainnya tetapi itu semua merupakan kedok dari kerakusan.
Sayang bagi Tan
Malaka, akhirnya dia harus mati di negerinya sendiri, di eksekusi oleh
bangsanya sendiri dan dicap sebagai penghianat. Tan Malaka meninggal tanggal 21
Februari 1949 di Selopanggung.
“Ingatlah
bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi” (Dari
Penjara ke Penjara Jilid II, 1948)
Saya bukanlah
seorang komunis. Saya hanya orang yang berharap suatu saat di republik ini
tidak ada lagi anak-anak bangsa yang berlari di diperempatan jalan mengejar
receh-recehan dari pada dermawan, tidak ada lagi anak-anak bangsa yang berhenti
sekolah hanya karena ketiadaan uang, tidak adalagi ketimpangan-ketimpangan yang
telalu jauh antara yang kaya dan yang miskin, tidak ada lagi
pembodohan-pembodohan yang dilakukan kaum-kaum borjuis terhadap buruh (pekerja)
dan tidak adalagi koruptor yang tega memakan uang rakyat. Tahun 2008 ini, 100
tahun sudah Kebangkitan Nasional dan 63 tahun sudah Indonesia Merdeka,
selayaknya tahun ini akan menjadi Tahun Perubahan bagi bangsa ini. Perubahan
untuk menjadi yang lebih baik lagi, lebih baik dalam penegakan hukum, lebih
baik dalam penciptaan kondusifitas berusaha, bekerja, dan keberpihakan
pemerintah kepada masyarakat ekonomi lemah.
SELAMAT
ULANG TAHUN INDONESIAKU
September 13th, 2008 at 3:24 am
keren bah tulisan kw..
T.O.P bgt dah pokoke..
hhehehe…
dahsyat..