BOOK ONE. LASKAR PELANGI
Andrea Hirata adalah seorang penulis baru yang
langsung melejit dengan empat buku sekaligus. Keempatnya merupakan buku best
seller di Indonesia. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Endensor dan Maryamah
Karpov. Membaca bukunya mengingatkan kita akan bukunya Dee ”Supernova”. Yap,
buku-buku yang mengandung kata-kata ilmiah yang menjlimet tapi memberikan kita
suatu inspirasi tentang ilmu pengetahuan yang begitu luasnya.
Buku pertama Laskar Pelangi
menceritakan tentang 9 anak suku melayu belitong yang sangat ingin bersekolah
dan 1 orang anak turunan tionghoa yang mungkin karena garis ekonomi harus ikut bersekolah
di sekolah reot SD Muhammadiyah. Mereka adalah Ikal, Kucai, Lintang, Samson,
Trapani, Akiong, Borek, Mahar, Harun dan seorang cewek, Sahara. Ikal merupakan pemeran utama dalam tetralogi
ini, seorang anak yang pintar tetapi tidak pernah menjadi juara 1. Kucai adalah
sesosok mahluk bermata juling akibat kekurangan gizi waktu kecil tetapi selalu
dipercaya mejadi ketua kelas karena gaya diplomasi, bodoh tapi merasa pintar.
Lintang, anak persisir yang harus bersepeda sejauh 40 km untuk bersekolah, anak
seorang nelayan tetapi merupakan anak yang terpintar diantara laskar pelangi,
yang pada akhirnya terputus sekolahnya akibat faktor ekonomi keluarga. Samson,
adalah seorang anak yang paling kuat diantara mereka, sangat mendambakan
tubuhnya menjadi sekuat hercules. Trapani, anak lelaki yang paling tampan,
kulitnya putih, bajunya selalu rapi jali
tetapi punya masalah dengan sindrom selalu bergantung dengan ibunya. Akiong,
anak turunan tionghoa, yang menduduki starta ekonomi paling bawah dalam
komunitas tionghoa. Borek, seorang anak yang susah diatur. Mahar, seorang anak
yang eksentrik yang jenius dalam hal seni dan berwajah tampan. Harun, seorang
murid yang mentalnya terbelakang, tetapi dialah penyelamat ketika SD
Muhammadiyah akan ditutup. Terakhir ada Sahara, cewek satu-satunya di ruang
kelas, si keras kepala dan terus menjadi musuh besar Akiong
Buku ini juga menceritakan
tentang pilunya kehidupan suku melayu belitong, suku asli yang tidak pernah
merasakan hasil kayanya tanah mereka, suku yang harus terasing ditanahnya
sendiri. Yap, mereka adalah kaum yang termarginalkan oleh peradaban Indonesia.
Suku melayu belitong merupakan satu dari sekian banyak kasus kaum marginal di
Indonesia yang harus menelan pahit pil kemiskinan ditanahnya yang kaya raya.
Sebut saja Aceh, sebuah propinsi yang kaya akan minyak bumi tetapi lebih dari ¾
penduduknya adalah rakyat miskin. Irian jaya sebuah propinsi yang memiliki
hasil tambang yang melimpah ruah tetapi ¾ penduduknya adalah rakyat miskin yang masih berbusana seadanya. Banyak
lagi daerah-daerah lain yang bernasib sama dengan mereka, suku melayu di Medan,
yang harus menyingkir ke daerah pinggiran karena tidak sanggup bersaing dengan
pendatang, suku betawi juga harus mengalami nasib yang sama dengan orang melayu
medan. Tikus-tikus yang kelaparan di lumbung padi.
Buku setebal 534 halaman ini dan
berharga Rp.60.000, akan mengundang ketakjuban kita akan sebuah semangat untuk
sebuah perubahan yang fundamental bagi masyarakat Melayu belitong. Berpendidikan.
Walaupun anak-anak belitong hidup serba
kekurangan untuk bersekolah tetapi tidak mengurangi semangat mereka untuk
bersekolah. Sekolah adalah jembatan menuju perubahan bagi mereka. Siapa saja
yang membaca buku ini akan terinspirasi karena buku ini. Lihat saja pernyataan Arwin
Rasyid seorang Dirut Telkom dan dosen FE UI ”Cerita Laskar Pelangi sangat
inspiratif. Sebuah Novel yang akan mengobarkan semangat mereka yang selalu
dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan”
Membaca Pelangi ibarat kembali
kemasa waktu kita bersekolah di SD dan SMP. Persahabatan, kegaduhan di ruang
kelas, indahnya masa kecil dan tentang cinta. Semua diracik sangat apik oleh Andrea.
SEBUAH CERITA YANG
SANGAT SAYANG JIKA DILEWATKAN